MySeLf

MySeLf

Rabu, 27 Februari 2013

Askep Tracheostomy


BAB 1
PENDAHULUAN


1.    Latar Belakang
Trakeostomi adalah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan pertukaran udara pernapasan. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas, melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus, serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi.
Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Pemeriksaan periodik kanul dalam, humidifikasi buatan, perawatan luka operasi, pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volume-low pressure cuff sangat penting agar tidak timbul komplikasi lebih lanjut. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi, yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi.
Selain itu, pasien juga harus mengetahui bagaimana cara membersihkan dan mengganti kanul trakheostomi, agar pasien dapat secara mandiri menjaga kesehatan tubuhnya, apabila pasien pulang dengan kanul trakhea masih terpasang. Dalam hal ini peran perawat sangat penting sebagai edukator dan role mode dalam perawatan mandiri pasien trakheostomi. Oleh karena itu, pada makalah ini akan dijelaskan berbagai macam hal mengenai trakheostomi.  

2.    Tujuan Penulisan
a.    Tujuan Umum
Dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan trakheostomi.



b.   Tujuan Khusus
1.    Mengetahui definisi trakeostomi
2.    Mengetahui fungsi dari trakeostomi
3.    Mengetahui indikasi dilakukannya prosedur trakheostomi
4.    Mengetahui kontraindikasi dilakukannya prosedur trakheostomi
5.    Mengetahui klasifikasi dan jenis trakheostomi
6.    Mengetahui penatalaksanaan pemasangan dan perawatan trakheostomi
7.    Mengetahui komplikasi yang timbul dari penggunaan trakheostomi
8.    Mengetahui asuhan keperawatan pada trakeostomi
c.       Sistematika Penulisan
BAB I      Pendahuluan yang berisikan Latar Belakang Penulisan, Tujuan Penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II    Tinjauan teori yang berisikan mengenai Anatomi Fisiologis trakea,  Pengertian, Etiologi (Indikasi dan Kontraindikasi), Fungsi Trakheostomi, Pemeriksaan Penunjang, Komplikasi, Penatalaksanaan dan Asuhan Keperawatan berdasarkan teori.
BAB III   Tinjauan kasus yang berisikan Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan dan Prioritas Masalah.









BAB 2
TINJAUAN TEORI

1.    Anatomi Fisiologi Trakea
Trakea merupakan tabung berongga yang disokong oleh cincin kartilago. Panjang trakea pada orang dewasa 10-12 cm. Trakea berawal dari kartilago krikoid yang berbentuk cincin meluas ke anterior pada esofagus, turun ke dalam thoraks di mana membelah menjadi dua bronkus utama pada karina. Pembuluh darah besar pada leher berjalan sejajar dengan trakea di sebelah lateral dan terbungkus dalam selubung karotis. Kelenjar tiroid terletak di atas trakea di setelah depan dan lateral. Ismuth melintas trakea di sebelah anterior, biasanya setinggi cincin trakea kedua hingga kelima. Saraf laringeus rekuren terletak pada sulkus trakeoesofagus. Di bawah jaringan subkutan dan menutupi trakea di bagian depan adalah otot-otot supra sternal yang melekat pada kartilago tiroid dan hioid.


2.    Pengertian
Trakeostomi adalah tindakan membuat stoma atau lubang agar udara dapat masuk ke paru-paru dengan memintas jalan nafas bagian atas (adams, 1997). Trakeostomi merupakan tindakan operatif yang memiliki tujuan membuat jalan nafas baru pada trakea dengan mebuat sayatan atau insisi pada cincin trakea ke 2, 3, dan 4.
Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan / anterior trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas bagian atas.(Hadikawarta Rusmajono, 2004)
Trakeostomi merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mengatasi pasien dengan ventilasi yang tidak adekuat dan obstruksi jalan pernafasan bagian atas.
Trakeostomi merupakan suatu prosedur operasi yang bertujuan untuk membuat suatu jalan nafas didalam trakea servikal.

3.    Etiologi (Indikasi dan kontraindikasi)
a.    Indikasi dari trakeostomi antara lain:
1)   Penggunaan Endotracheal Tube yang  melebihi waktu sampai 2 minggu
2)   Terjadinya obstruksi jalan nafas atas
3)   Perlindungan Trakeobronkial Tree dari Aspirasi.
4)   Gagal nafas
5)   Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis, misalnya pada pasien dalam keadaan koma.
6)   Untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator)
7)   Apabila terdapat benda asing di subglotis
8)   Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas (misal angina ludwig),
9)   Obstruksi laring
b.    Kontraindikasi dari trakheostomi antara lain :
Infeksi pada tempat pemasangan, dan gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol, seperti hemofili.


4.    Fungsi Trakeostomi
Fungsi dari trakheostomi antara lain:
a.    Mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya mengurangi kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara sehingga mengakibatkan peningkatan regangan total dan ventilasi alveolus yang lebih efektif.
b.    Proteksi terhadap aspirasi
c.    Memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat penting pada pasien dengan gangguan pernafasan
d.   Memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan.
e.    Memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke traktus respiratorius.
f.     Mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan sekret ke perifer oleh tekanan negatif intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang normal.

5.    Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Diagnostik yang perlu dilakukan pada klien dengan trakeostomi yaitu :
a.       Pemeriksaan fungsi paru
b.      Analisa gas darah arteri
c.       Rontgen dada (Thorax)
d.      Pemeriksaan laboratorium : masa perdarahan dan masa pembekuan (BT,CT,PT,APTT), Status nutrisi / elektrolit, nilai Hb.
6.    Komplikasi Trakeostomi
No.
Waktu
Komplikasi
1.
Intra-operatif
·    Haemorrhage (pendarahan).
·    Rasa panas pada jalan nafas
·    Cedera pada trakea dan laring
·    Cedera pada struktur trakeal
·    Emboli udara
·    Apnea
·    Henti jantung
·    Perforasi
·    Ruptur pleura viseralis
·    Sumbatan darah/secret
2.
Post-operatif
v  Emfisema subkutan
v  Pneumotoraks / pneumomediastinum
v  Infeksi luka
v  Trakea nekrosis
v  Masalah menelan
3.
Jangka panjang
Ø Obstruksi jalan nafas atas
Ø Infeksi
Ø Fistula trakeoesofagus
Ø Stenosis trakea
Ø Iskemia atau nekrosis trakea
7.    Penatalaksanaan Trakeostomi
a.    Persiapan tindakan :
1)      Persiapan pasien : puasa minimal 4 jam sebelum tindakan.
2)      Informed consent ke keluarga pasien berupa surat ijin tindakan (SIT) Kedokteran, SIT Anasthesi, bukti edukasi dan persetujuan ke bagian administrasi.
3)      Pemeriksaan laboratorium : masa perdarahan dan masa pembekuan, Hb.
4)      Persiapan Alat :
Ø Kanul trakeostomi ukuran 7fr atau 7,5fr atau sesuai instruksi  dokter.
Ø Set steril untuk tindakan trakeostomi.
Ø Obat – obatan anasthesi
b.    Perawatan Trakeostomy
Perawatan trakeostomi meliputi:
1)   Pembersihan secret atau biasa disebut trakeobronkial toilet
2)   Perawatan luka pada trakeostomi
3)   Perawatan anak kanul
4)   Humidifikasi untuk menjaga kelembapan
c.    Tujuan Perawatan Trakeostomi
1)   Untuk mencegah sumbatan pipa trakeostomi (Pluging)
2)   Untuk mencegah infeksi
3)   Meningkatkan fungsi pernafasan (ventilasi dan oksigenasi)
4)   Bronkial toilet yang efektif
5)   Mencegah pipa tercabut

8.    ASUHAN KEPERAWATAN
a.    Pengkajian
1)   Anamnnesa
a)    Data Demografi : Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan penanggung biaya.
b)   Data Subyektif : sesak napas, nyeri
c)    Data obyektif : RR meningkat, Saturasi O2 menurun
d)   Pemeriksaan Fisik: B1 : Ronchi, RR meningkat, Saturasi O2 menurun
e)    Pengkajian Psikososial: Ansietas terjadi pada pasien dengan trakeostomi.
2)   Pengkajian Teoritis Lengkap
a.    Identitas Klien
Lakukan pengkajian pada identitas pasien dan isi identitasnya yang meliputi : Nama, jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama dan tanggal pengkajian.
b.    Keluhan Utama
Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah batuk berdahak, nyeri dada, sesak napas. 
c.    Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Penderita obstruksi jalan napas menampakkan gejala nyeri dada, batuk berdahak, dan disertai sesak napas dan adanya edema pada laring. 
d.   Riwayat Kesehatan terdahulu (RKD)
Penyakit yang pernah dialami oleh pasien sebelum masuk rumah sakit, kemungkinan pasien pernah menderita penyakit sebelumnya seperti: adanya riwayat merokok, penggunaan alcohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral.
e.    Riwayat kesehatan Keluarga (RKK)
Riwayat adanya penyakit obstruksi jalan napas pada anggota keluarga yang lain seperti penyakit Asma. 
f.     Data Dasar Pengkajian Pasien
1.    Aktivitas/istirahat
Gejala    : Kelemahan, kelelahan, keletihan, napas pendek.
Tanda    :  Frekuensi pernapasan meningkat, perubahan irama pernapasan, takipnea.
2.    Sirkulasi
Gejala    : Riwayat adanya hipertensi.
Tanda    : Kenaikan tekanan darah meningkat, penampilan kemerahan, atau pucat.
3.    Integritas ego
Gejala    : Perasaan takut akan kehilangan suara, mati, terjadinya / berulangnya kanker. Kuatir bila pembedahan mempengaruhi hubungan keluarga, kemampuan kerja dan keuangan.
Tanda    :  Ansietas, depresi, marah dan menolak, menyangkal.
4.    Eliminasi
Gejala : gangguan saat ini atau yang lalu / obstruksi riwayat penyakit paru
5.    Makanan/cairan
Gejala    : Kesulitan menelan
Tanda    : Kesulitan menelan, mudah tersedak, bengkak, luka (malnutrisi)
6.    Neurosensori
Gejala    : Diplopia (penglihatan ganda, ketulian)
Tanda       : Parau menetap atau kehilangan suara, kesulitan menelan, ketulian konduksi, kerusakan membrane mukosa.
7.    Nyeri/kenyamanan
Gejala      : Sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk)
Tanda       :  Melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan).
8.    Pernafasan
Gejala      : Adanya riwayat merokok/mengunyah tembakau, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik/serbuk, logam berat, riwayat penggunaan berlebihan suara, riwayat penyakit paru kronis, batuk dengan/tanpa sputum, drainase darah pada nasal.

b.    Diagnosa Keperawatan
1.    Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret
Tujuan : Tidak ada sekret pada jalan nafas
Kriteria hasil : Ronchi dan wheezing tidak terdengar
Intervensi
Rasional
  1. Mengauskultasi paru setiap 4 jam
  2. Menganjurkan klien untuk tarik nafas dalam dan batuk
  3. Melakukan fisioterapi nafas jika tidak ada kontraindikasi
  4. Membersihkan trakheostomy tube klien sesuai dengan kebutuhan berdasarkan jumlah akumulasi secret
  5. Melakukan suctioning bila perlu
  6. Melakukan nebulizing
  1. Jika ditemukan crackles dan wheezing dapat mengintrepretasikan adanya sekret pada jalan nafas.
  2. Pasien dapat mengeluarkan sekret dengan tarik nafas dalam dan batuk tanpa suctioning.
  3. Untuk membantu pasien mengeluarkan sekret dengan batuk
  4. Dengan membersihkan trakheostomy, menghindari terjadinya penumpukan sekret dan agar jalan nafas bersih
  5. Suctioning membersihkan jalan nafas dari sekret
  6. Nebulizer membantu untuk mengencerkan secret sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan

2.      Resiko infeksi berhubungan dengan pembuatan saluran nafas baru dari mekanisme pertahanan respirasi.
Tujuan : Memperkecil adanya infeksi sehingga kemungkinan komplikasi tidak ada
Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi
Rasional
1.    Cuci tangan sebelum melakukan prosedur
2.    Monitor dan laporkan adanya tanda-tanda infeksi, misalnya demam, penurunan RR (Respiratory Rate), dahak kental, peningkatan jumlah sel darah merah
3.     Jaga pemaparan trakheostomy terhadap benda asing
4.    Gunakan teknik steril dalam melakukan perawatan trakheostomi dan suctioning
5.    Anjurkan untuk diet tinggi kalori tinggi protein.
1.    Dengan tangan yang bersih saat melakukan prosedur, memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi.
2.    Mengidentifikasi adanya infeksi dan memperkecil komplikasi.
3.    Pemaparan terlalu sering pada trakheostomy mengakibatkan pneumonia.
4.    Agar mikroorganisme tidak dapat masuk ke jalan nafas.
5.    Untuk meningkatkan sistem imun.

3.      Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan terpasangnya trakheostomy tube
Tujuan : Pasien mampu berkomunikasi
Kriteria hasil : Interaksi sosial klien berkembang
Intervensi
Rasional
 1          Beri kesempatan pasien untuk berkomunikasi.
 2          Amati gerak non verbal pasien
 3          Sediakan kertas dan bolpoin jika pasien lemah tidak mampu berbicara banyak.
 4          Ajarkan pada pasien yang terpasang trakheostomi tentang cara menutup lubang trakheostomi dengan jari yang bersih atau tutup yang khusus jika ingin berbicara.
 1             Memberikan pasien untuk mengungkapkan apa yang pasien butuhkan.
 2            Gerak non verbal mengintepretasikan perasaan pasien.
 3            Pasien bisa berkomunikasi dengan menulis di kertas jika lemah.
 4            Menutup jalur masuknya udara melalui trakheostomi maka pasien dapat berbicara.

4.      Gangguan citra tubuh berhubungan dengan terpasangnya trakheostomy tube
Tujuan : Mengembalikan kepercayaan diri klien
Kriteria hasil : Pasien tidak lagi merasa harga dirinya rendah
Intervensi
Rasional
1.      Kaji perasaan pasien terhadap trakheostomi yang terpasang pada dirinya
2.      Dekati pasien dengan komunikasi teraupetik
3.      Minta pasien untuk mengungkapkan perasaannya saat dipasang trakheostomi
4.      Bantu pasien untuk menemukan cara yang efektif untuk mengatasi penampilan trakheostomi agar tidak mengganggu pandangan.
1.       Pengkajian adalah hal dasar sebelum menentukan perawatan
2.      Untuk meningkatkan sikap kooperatif pasien
3.      Untuk mengetahui masalah yang dialami pasien agar mudah menemukan solusi
4.      Dapat meningkatkan harga diri pasien

Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman